Solo Trip ke Lombok Transit di Surabaya

Rumi said: “travel brings power and love back into your life.” ― yuup..perjalanan akan selalu dan pasti membawa pengalaman baru. 20 Juni 2015 garis hidup mengantarkan saya untuk berkenalan dengan tetangga kosan, namanya Angga. Hahahahaha..kita sama-sama ngekos di Pancoran Buntu I, jalan raya Pasar Minggu, padahal kosan kita hadap-hadap-an cuman terpisah satu jalan kecil, tapi gak pernah ketemu. Kita ketemu di Halte AURI pukul 05.40. Dia mau terbang ke Balikpapan menuju Samarinda dengan jadwal penerbangan jam 10, katanya sih ada kerjaan di sana dan hari Minggu sudah balik lagi ke Jakarta, sementara jadwal penerbangan saya jam 07.40. Kami pun ngobrol percakapan ala-ala kenalan baru, dan karena dirasa lumayan lama menunggu bus DAMRI yg hampir 10 menitan ga muncul, akhirnya kami berdua membuat komitmen, kalau sampe jam 06.00 bus DAMRI arah bandara ga muncul juga, kita berdua akan memesan taxi, kemudian Angga bercerita kalo dia masih ada voucher 30.000 bila memake jasa Grab Taxi. Dan, Deal! But, luck is on our side… ternyata sebelum jam 6 teng, muncullah bus DAMRI, kami pun sigap naik bus DAMRI siap menuju Bandara CGK. Saya turun di Terminal 1C krn naik maskapai Citilink, dan Angga berhenti di Terminal 2F karena naik Garuda. Karena suasana jalanan sepi, kurang lebih 25 menit kami sudah sampai di Bandara CGK, setelah sampai di Terminal 1C, kami pun berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing2.
Saya pun langsung Check In di counter Citilink, setelah selese Check in langsung masuk ke ruang tunggu C2 terminal 1C jam 06.34.

Swiiiiiiiiiiingggg.. *airplane sound* :p

Sekitar Pukul 09.20 sampailah di daratan Juanda Int. Airport, dan saya langsung dijemput bus DAMRI dg hanya membayar tiket Rp.25.000 dengan tujuan Tunjungan Plaza (TP). Busnya muterin lagu2 Indonesia yang lumayan hits. Jalanan setelah keluar bandara ternyata cuman dua jalur, tidak selebar jalanan yang ada di Jakarta. Akhirnya bus pun ketemu macet di sekitaran perlintasan kereta api bundaran Aloha. Kurang lebih 35 menit perjalanan ditempuh untuk menuju TP, walopun kayaknya lebih menarik cuci mata di mall City of Tommorow sih. Tapi kayaknya iconnya Surabaya yaa TP ini. Karena isi mall-nya gak jauh beda sama mall Jakarta, jadi saya kurang tertarik buat window shopping, dan langsung deh saya meluncur ke Gramedia di lantai 4 TP. buat nyari temen perjalanan alias buku.. Hohoho.. Bosen muterin TP, akhirnya kepikiran buat beli Almond Crispy. Setelah googling, ketemulah nama Toko Wisata Rasa, kalo di aplikasi waze sih kayaknya gampang nemuin-nya, cuman karena saya ga pake kendaraan pribadi, akhirnya musti modal nekad nanya sana-sini. Saya nanya ke pengunjung mall & satpam, tapi tetep saja tidak membawa pencerahan. Akhirnya, sok2an nyari Toko Wisata Rasa dengan sotoy-nya naik angkutan warna coklat dengan kode V, pokoknya yg penting jalan, ternyata salah angkutan dan  dilanjut angkot kuning arah Genteng Besar. Ngikutin insting kaki yang pengennya jalan, akhirnya malah nyampe di pasar Genteng dengan tidak diniatkan. Masih tetep sotoy, saya pun nanya ke ibu-ibu di pasar tentang Almond Crispy, dan akhirnya ke-sotoy-an saya pun membawa hasilnya, Voilaaaa… ketemu juga toko yang jualan Almond Crispy.
Si Cici-cici penjual Almond Crispy menawarkan harga @40.000 untuk satu kotak Almond Crispy, dan ga bisa ditawar, dan memang ternyata harga Almond Crispy di bandara Juanda satu kotaknya dijual Rp. 80.000,-, Yuuup..dua kali lipatnya. Dan saya cukup membeli 3 kotak Almond Crispy aja, karena males bawa tentengan yang banyak.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, biar ga keliyengan karena kurang asupan makanan, saya nyari resto yang buka di bulan Ramadhan (kebetulan lagi off puasa). Dan gak jauh dari Pasar Genteng ada namanya Soto Ayam Cak Riban.

Soto Cak Riban - Surabaya

Soto Cak Riban – Surabaya

Harganya lumayan murah, satu porsi soto + nasi dijual Rp.15.000. Penjualnya pas ngeliat saya pesan soto di bulan Ramadhan, langsung pasang muka sinis & heran, mungkin masyarakat sini ga terlalu familiar sama seorang muslim yang dengan sengaja makan siang di tempat umum di bulan Ramadhan. Hmmm.. yasudahlah. Tatapan sinis penjualnya cukup dimaklumin aja deh, ga usah dimasukin ke hati. Selesai makan, saya masih punya PR lagi buat balik ke bandara, soalnya jadwal penerbangan ke Lombok sekitar pukul 14.55. Akhirnya nanya tukang ojeg dan diarahin naik angkutan yang menuju halte depan bank Mayapada yang gak jauh dari mall TP. Tapi gak sengaja tikungan yang buat nunggu angkutan umum ke arah TP ternyata adalah Taman Prestasi, yang merupakan tamankota yang cukup dikenal di Surabaya.

Taman Prestasi - Surabaya

Taman Prestasi – Surabaya

Sampai di halte, saya ngobrol-ngobrol singkat dengan salah satu penunggu bus Damri juga, dia mau pulang ke Kediri. Lumayan bisa ngisi waktu selama menunggu bus Damri yang lama sekali datangnya, kurang lebih setengah jam-an saya menunggu. Ternyata tiket bus Damrinya murah meriah Rp. 6.000,- karena si bus Damrinya ga ada yang langsung tujuan ke bandara. Saya diarahin sama kenek bus damri untuk turun di Menanggal dan naik taxi. Ternyata susah juga nyari taxi kosong di jembatan Menanggal. Setelah sekian lama menunggu taxi, alhamdulillah dapet juga taxi express yang kosong. Karena saya butuh cepat, jadi saya minta pak supir lewat tol saja, Bayar tol dari Menanggal sampai arah bandara sebesar Rp. 7.000. Yang menenangkan adalah Supir Taxi Express-nya ramah & sopan, pakenya bahasa jawa yang halus. Dia berkali-kali menyebut kata nggih, punten, monggo. Dari Menanggal sampe bandara nilai argo yg muncul sebesar Rp. 71.000-an, karena kata pak supir yang sopan tadi, taxi yang masuk bandara kena uang parkir sebsar Rp. 4.000 makanya saya membayar Rp. 79.000.-. Sampai bandara saya tidak perlu check in lagi, karena statusnya hanya transit. Akhirnya saya sampai di ruang tunggu bandara dan duduk manis sekitar pukul 13.51 dengan agak repot membawa 4 kotak almond crispy.. Fyuuuh.. Satu jam penantian pesawat saya pakai buat baca buku yang tadi saya beli, penulisnya kang Mohammad Sobary, judulnya “Kang Sejo Mencari Tuhan”. Sudah lama saya kenal kang Sobary, walaupun cuman lewat suaranya, dulu jaman saya kuliah S1 dia mengisi acara di radio RRI kalo gak salah. Tapi baru kali ini membaca karya tulisannya.

Sekitar pukul 14.50-an para penumpang sudah disuruh naik pesawat, dan pukul 14.55 saya  sudah di dalam pesawat Citilink menuju Lombok Praya. Saya duduk sebelahan dengan pasangan suami istri yang menggunakan bahasa ala Upin Ipin.😄😄😄

Ternyata mereka adalah pasangan Mataram-Malaysia. Sang suami dari Malaysia, sementara si istri dari Mataram. Mereka memang ingin ber-Ramadhan di Lombok, dan baru kembali ke Malaysia setelah hari raya. Beberapa kali si istri berucap “cantiknyaaaaaa…” ketika melihat pemandangan di luar jendela pesawat. Kebetulan posisi saya persis sebelah jendela, jadi bisa langsung meng-capture pemandangan syahdu pulau Lombok dari atas pesawat.

Pemandangan Kota Praya

Pemandangan Kota Praya

Langit Sore Kota Praya

Langit Sore Kota Praya

Setelah disajikan pemandangan sore langit pulau Lombok. Pesawat pun mendarat dengan selamat di Bandara Lombok Praya sekitar pukul 17.20 WIT. Keluar bandara, saya langsung ke counter tiket DAMRI.
Tiket Damri ke arah Senggigi seharga Rp. 35.000,-. Tujuan saya adalah Hotel Bintang Senggigi, karena letaknya di pantai Senggigi-nya.
Sekitar pukul 17.54 WIT, bus damri mulai meluncur. Bus Damri memutar rekaman kultum, dari suaranya sih gak familiar, dan bener, ternyata yang ceramah adalah Rhoma Irama😀. Sempet heran juga, ternyata sosok Rhoma masih diidolakan di daerah sini. #hmmmm… *gak bermaksud apa-apa sih, cuman kalo saya pribadi mengira si Rhoma ini sudah lama pensiun*😛
Selesai mendengar ceramah Rhoma Irama, radio memutarkan alunan shalawat yang membuat  suasana senja di Lombok makin syahdu. Kurang lebih liriknya seperti ini:
Allahu akbar allahu akbar..yaa rahmanurrahim..
Yaa ghafar..
Yaa mujibuu..🙂🙂🙂

Masjid di Lombok kala Maghrib

Masjid di Lombok kala Maghrib (dijepret dari dalam bus Damri)

Karena sayup-sayup, jadinya liriknya ga begitu bisa dihapalkan..
Akhirnya suara adzan maghrib pun mengalun. Sang Supir bus Damri berhenti sejenak untuk menyegerakan berbuka puasa. Sekitar 5 menitan bus kembali meluncur. Setelah sampai di semecam terminal bus Damri, semua penumpang pun turun, kecuali saya. Saya pun pindah duduk ke depan, di belakang kemudi pak Supir, sambil nanya-nanya. Tapi karena bus Damri mau masuk bengkel, dan mungkin karena penumpangnya tinggal saya sendirian, jadinya si pak supir rada enggan mengantarkan sampai tujuan akhir bus damri. Huuukkkksss. Saya diturunkan di bandara lama Lombok, yaitu Selaparang, karena di depan ex-bandara Selaparang banyak taxi Blue Bird yang mangkal. Perjalanan saya pun dilanjutkan dengan naik taxi. Supir taxi Blue Bird-nya ramah juga, kami ngobrol tentang Islamic Center yang pembangunannya masih belum selesai, padahal sudah dilakukan sejak 3 tahun yang lalu.
Saya membayar taxi Rp. 40.000 ketika sampai di hotel Bintang Senggigi. Hotelnya damai dan menenangkan, saya pun mau kalau lain kali bisa menginap lagi di sini. Saya memilih Bintang Senggigi, karena selain di belakang hotel langsung bertemu dengan pantai Senggigi, juga di sebrang hotel terdapat banyak pilihan makanan. Setelah check in, saya lanjut bersih-bersih dan sholat. Beberapa kali pihak hotel menelpon menanyakan mau dibangunkan sahur jam berapa dan mau memesan menu makan apa. Setelah rapi semuanya, saya ke seberang hotel untuk menyicip ikan goreng, setelah kenyang saya mereview pengeluaran selama sehari kemudian beradu dengan kasur alias tidur.
Check out pukul 09.30 WIT, lanjut dipesankan taxi oleh pihak hotel. Dapatlah taxi Express.
Sepanjang jalan liat tag line kota Mataram: maju, religius & berbudaya.
Lalu lewatin Kediri: kota Santri.
Ada juga Pondok pesantren Islahuddiny.
Kuliner yang terkenal disini menurut pak supir taxi adalah Nasi Puyung di desa Puyung, tapi karena bulan puasa jadi ga nyobain kulineran-kulineran.
Suku Sasak terkenal dengan tag line Bumi Gora, yaitu Gogo Rancah.
Pas lewatin desa Sasak (Sasak Village), keliatan sepi cuma ada beberapa pemuda & laki2 dewasa duduk di dekat gerbang pintu masuk desa, jadinya ga tertarik buat mampir ke Kampung Sasak.
Ada satu event yang menarik di Lombok, yaitu Pesta memancing cacing, atau pesta Nyale, katanya diadain setiap bulan Februari. Cacing-cacing keluar dari persembunyiannya di lubang-lubang batu karang, yang kemudian ditangkap. Konon menurut legenda setempat, Cacing Nyale ini merupakan jelmaan dari Putri Mandalika.
Sampai di pantai Kuta Lombok sekitar jam 11-an. Argo taxinya sekitar Rp. 250.000-an dan kubayar Rp. 270.000 untuk mengakrabkan dg supir, namanya pak Afif.
Akhirnya taxi pun nyampe di Pantai Kuta, biaa masuk pantai Kuta dikenai biaya Rp. 10.000,-.
Sambil nunggu dzuhur jam 12.20 waktu setempat. Akhirnya santai di mushola pantai Kuta dg baca Quran. mumpung bulan Ramadhan jadi banyakin pahala, soalnya udah banyakan dosa juga :D
Sejenak berpanas-panasan di pantai Kuta, yang pasirnya bulet-bulet tajem, ngambil foto2 bentar, beli gelang dari kayu-kayuan, dan adek-adek penjual gelang disini agresif banget, mereka maksa pengunjung wajib beli barang dagangan mereka, terus kalo udah beli ke satu penjual, penjual yang lain gak mau kalah, mereka iri gitu, jadi bakalan ngejar-ngejar si pengunjung buat beli dagangan mereka, harusnya mereka ditraining gimana menjadi sales yang baik, kan sayang nanti malah bikin image jelek bagi wisata Pantai Kuta Lombok.

Pantai Kuta Lombok

Pantai Kuta Lombok

Bingung mau mampir kemana lagi, akhirnya diputuskan untuk mampir kerajinan tenun Sukarara buat belanja kain tenun. Pas kebeneran ada mutasi eselon 4, dan Kasi-ku pun keangkut, jadinya beli satu kain yang mahalan buat kado beliau. Disini kita juga bisa berfoto pake baju Suku Sasak yang dibantuin sama si mas/mba waitress-nya.

Sasak Traditional Clothing

Sasak Traditional Clothing

Puas berbelanja, akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Bandara dan sampe bandara kena charge taxi sebesar Rp. 170.000,-.

Karena jam penerbangan yang masih lama, akhirnya di bandara Lombok Praya saya ngobrol dengan ibu-ibu, lebih tepatnya sih nenek2, karena beliau sudah memiliki cucu, namanya Suprapti Sitorus, dari Sleman. Walopun namanya bermarga, tapi sebenarnya beliau asli orang Jawa, namun menikah dengan orang Batak. Setidaknya bisa memberikan warna pengalaman dari kaca mata orang yang sudah berumur, mereka gak berhenti dan ragu-ragu untuk curhat tentang kehidupan pribadinya. Heheheh…

Itulah sekilas solo trip dari Jakarta – Surabaya – Lombok – Jakarta. Just want to prove that im brave enough to travel alone without knowing the destination. Solo traveling makes you more confident, gain independence to make decision, break the idea of comfort zone, learn something new, healing from psychological diseases :p , appreciate the little things named love :p (mulai drama deh), and you free yourself, bebas mau ngapain aja. Xoxoxoxo…😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: