KAPAN BALIK KE BALIKPAPAN?

 

Satu kata untuk Balikpapan? RELIGIUS. Kesimpulan itu saya dapatkan ketika singgah di Balikpapan selama 3 hari 2 malam dari tanggal 3 April 2015 s.d. 5 April 2015.

Tuhan telah memberikan kesempatan kepada saya dan adek saya pada tanggal 3 s.d. 5 April 2015 untuk melakukan perjalanan di kota Balikpapan. Adek saya mendapat tiket gratisan dari Traveloka dengan destinasi penerbangan Kota Balikpapan. Awalnya sih saya kurang tertarik untuk melakukan trip ke Balikpapan, karena destinasi wisatanya yang menurutku kurang hits. But.. my assumption was wrong. Ternyata Balikpapan adalah kota yang asik buat dikunjungi.

Karena kasian juga sama adek yang sama sekali buta sama Balikpapan, terus daripada tiket gratisannya ga terpakai, akhirnya jadilah juga ngetrip ke Balikpapan, dengan bermodal informasi yang ada di Google. Thanks Google, you are a mine of information :-* . Dari Google juga saya membooking tempat penginapan, namanya My Home Boutique Guest House di Ruko Bandar, Jl. Jend. Sudirman Blok I No. 11. Karena buta arah, ternyata penginapannya ada di ruko-ruko perkantoran gitu sih, belakangnya langsung pantai, walopun ga dapet view pantainya tapi ga nyesel nginep disini, toh sekedar buat mampir istirahat. Alhamdulillah di Balikpapan aplikasi waze berfungsi, tapi sayangnya aplikasi zomato ga supported, jadi saya dan adek saya gak terlalu worry nyasar, palingan ga bisa kulineran yang well recommended di sana.

Jumat 3 April 2015 subuh pukul 04.45 penerbangan Citilink berjalan lancar sampai ke Balikpapan. Seturunnya di Bandara Sepinggan yang kece abis, kami langsung sarapan di bandara terus clingak clinguk mau naik apa ke penginapan. Untung jalanan dari bandara ke jalan utama ga terlalu jauh. Karena sotoy-nya lagi kambuh, akhirnya kami naik angkutan umum arah Terminal Damai, dilanjut angkutan ke arah Ruko Bandar. Dengan dipandu aplikasi Waze, kami berhasil menemukan penginapan yang udah dibooking, padahal lokasinya rada di tengah-tengah ruko sehingga butuh kejelian buat menemukan si hotel.

Setelah check in dan bersih-bersih, plus sholat dzuhur, santai-santai, trus sholat ashar, jadilah kita ngelayap nyari pantai. Untung angkutan umum disini kayak tawon di deket sarangnya, alias banyak. Sekali naik angkutan bayarnya Rp. 5.000,- per orang, harganya lebih mahal seribu bila dibandingkan dengan angkutan di Jakarta. Terpilihlah pantai Kemala. Pantai kecil yang lumayan diminati banyak penduduk sekitar untuk sekedar berkumpul bersama keluarga. Tiket masuknya hanya bayar Rp. 2.000,-. Karena gak banyak pemandangan yang bisa dilihat, akhirnya saya dan adek keluar dari kawasan pantai Kemala, terus jalan kaki beberapa meter dari pantai Kemala. Ternyata nemu Monumen Perjuangan Rakyat (MENPORA). Disini si adek sedikit narsis-narsisan sama si tugu Menpora. Setelah bosen, kita pergi nge-mol ke e-Walk Balikpapan. Disini mall-nya ga jauh beda sama mall di Jakarta, para tenant-nya pun sama. Habis muter-muterin mall, kita sholat maghrib, terus beli camilan buat persediaan bahan pangan. Karena takut kehabisan angkutan klo udah kemaleman, akhirnya kita buru-buru balik ke penginapan. Angkutan di Balikpapan rata-rata beroperasi cuman sampe jam 8 malam, tapi mungkin ada juga yang sampe jam 9 malam.

Kami lebih betah di penginapan, soalnya masih rada2 takut sama kehidupan malam di kota Balikpapan. Secara di sekitaran penginapan banyak bar sama tempat karaoke.

Setelah beristirahat cukup puas, keesokan paginya, sekitar jam 9, kita mulai mencoba berpetualang yang lebih jauh. Kita mau ke Bukit Bangkirai. Bermodal nanya ke penjual sarapan di deket penginapan, akhirnya kita diarahkan untuk naik bus ke arah Samarinda, namanya P.O Samarinda Lestari. Dengan membayar tiket sebesar Rp. 30.000,- sampailah di jalanan yang mengarah ke Bukit Bangkirai. Tepatnya di Jalan Samboja Km 38. Setelah nanya ke penjual di sepanjang jalan Samboja, ternyata dari jalan utama menuju bukit Bangkirai tidak ada angkutan khusus yang bisa mengantarkan ke lokasi wisata. Kalopun ada, hanya mobil dinas perhutani yang jadwal keberangkatannya tidak pasti. Satu-satunya opsi adalah naik Ojeg. Namun ternyata susah juga mendapatkan tukang ojeg yang mau mengantarkan ke bukit Bangkirai. Hiiiks.. beberapa kali nanya tukang ojeg yang lagi mangkal, mereka keberatan menerima order, karena jalanan yang harus ditempuh cukup jauh dan berliku. Gak pantang menyerah, akhirnya ada dua tukang ojeg yang baik hati yang mau mengantarkan kami berdua. Terimakasih bapak pedagang salah satu toko di jalan Samboja, yang mau nanyain kesana kemari siapa tukang ojeg yang bersedia mengantarkan wisatawan sotoy buat ngeliat Bukit Bangkirai. Kami dikenakan tarif sebesar Rp. 100.000,- untuk diantarkan ke Bukit Bangkirai, kami gak keberatan, karena memang setelah sampai di lokasi tujuan, perjalanannya memang amat sangat jauh, jadi harga tersebut sepadan.

Di Bukit Bangkirai kami disuguhi pemandangan hijau asri pohon-pohon yang besar dan tinggi. Sangat lezat untuk dinikmati sang mata.

Untuk menikmati jembatan pohon, kami harus mengantri untuk menaikinya. Karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kalo terlalu banyak pengunjung yang berada di atas jembatan, dalam bayanganku sih semisal tali jembatannya putus dll. :p

Canopy Bridge

Canopy Bridge, Bukit Bangkirai

Usai menyusuri jembatan gantung (Kanopi Bridge) yang lumayan menegangkan, karena kebanyakan liat ke arah bawah, kita pun memutuskan untuk kembali ke kota. Naaah..disinilah mulai kebingungan nyari kendaraan balik. Soalnya tidak tersedia tukang ojeg disini. Satu-satunya solusi adalah menumpang mobil pengunjung Kanopi Bridge. Akhirnya setelah selesai solat dzuhur dan membeli beberapa souvenir, kami ngobrol2 dengan petugas Perhutani sambil menunggu pengunjung yang berbaik-hati untuk memberikan tumpangan kepada kita berdua. Setelah beberapa puluh menit menunggu, akhirnya saya melihat sekumpulan anak muda yang menuju parkiran mobil, setelah melihat stiker Makara UI yang menempel di mobil mereka, saya pun memberanikan diri mengajak ngobrol mereka dengan bermodal jiwa korsa bahwa saya juga ILUNI #tsaelaaah kepake juga embel-embel ILUNI-nya.

Ternyata mereka membawa dua mobil, dan satu mobil hanya berisikan 2 penumpang, salah satunya bernama Mardya Indyana, gadis asal Jakarta yang bekerja di BNI dan mendapat penempatan bekerja di Balikpapan. Alhamdulillah, kami berdua diperbolehkan menumpang mobil mereka sampai arah kota Balikpapan. Dari ngobrol dengan Mardya dan satu lagi cowo yang saya lupa namanya, heheh.. maklum yang kumintain contact-nya cuman si Mardya, akhirnya kita mendapat sekilas informasi tentang destinasi mana yang sebaiknya dikunjungi. Saya pun memutuskan untuk memilih Pantai Lamaru, toh adek saya tinggal manut aja, soalnya dia belum pernah melakukan travelling jauh, jadi belum terbiasa mengambil keputusan dalam keadaan blank tanpa tau informasi apapun.

Setelah diturunkan di pertigaan yang mengarah ke pantai Lamaru, kami pun mengucapkan terimakasih kepada Mardya dan kawannya😀 dan melanjutkan perjalanan ke Pantai Lamaru. Dalam perjalanan panjang ke pantai Lamaru dengan menggunakan angkutan umum, kami pun bertemu dengan supir yang baik hati yang menawarkan akan menjemput ketika perjalanan pulang dari pantai, namun ternyata karena kemalaman akhirnya kami gak jadi dijemput si bapak supir yang mengantarkan ke pantai Lamaru. Oiyaa..ada satu cerita menarik dari penumpang yang satu angkutan dengan kita. Yaitu ibu-ibu dan dua orang anaknya. Beliau dalam perjalanan pulang setelah berbelanja dari pasar. Tapi setelah beberapa menit menumpangi angkutan, beliau baru ingat kalo telah memesan minuman kepada salah satu penjual di pasar, dan ia lupa menepati janji untuk membeli minuman tersebut, walopun belum dibayarnya juga sih. Ibu tersebut panik ingin turun dari angkutan dan kembali ke pasar untuk memenuhi janjinya. Sementara anaknya disuruhnya pulang terlebih dahulu. Akhirnya setelah diberikan pengertian oleh pak supir dan anaknya, ibu tersebut pun membatalkan keinginannya walaupun dengan penyesalan mendalam, terlihat bagaimana beliau berulang-ulang mengucapkan istighfar karena telah gagal memenuhi janjinya kepada si penjual minuman. Dari peristiwa ini, saya dan adek saya pun belajar kembali arti pentingnya menepati janji. Yaap… promise is a huge debt.

Sesuai perkiraan saya, kami pun tiba di Pantai Lamaru sekitar jam 5-an sore, tepat saat Sunset. Mempesona sekali. Tapi kami menjalankan solat asar dulu dan makan sore, sebelum menyusuri garis pantai Lamaru. Menenangkan sekali melihat ombak pantai yang berkejaran menuju tepian pasir. Setelah berfoto dan menyelami suasana sore di pantai, suara adzan pun berkumandang. Kami harus segera kembali ke penginapan. Kami pun clingak-clinguk lagi nyari angkutan yang bisa mengantarkan ke penginapan. Ternyata jarak antara pintu masuk pantai ke jalan raya yang dilewati angkutan umum cukup jauh, sekitar 15 menitan jalan kaki baru bisa sampai ke jalan raya. Fyuuuuh…saya dan adek saya pun mau ga mau jalan kaki sambil dengerin musik dari HP. Ternyata ga secapek yang dipikir koq. Setelah mendapat angkutan umum, kami pun bisa merasa lega dari kekhawatiran terdampar di negeri orang. Hahahha.. Fix, nyampe penginapan kami istirahat agar siap untuk melewati hari terakhir di kota Balikpapan.🙂

Hari terakhir di Balikpapan kita memutuskan untuk shoping-shoping. Destinasi pertama adalah Pasar Inpres tempat jualan batu akik, gelang-gelangan serta souvenir khas Balikpapan, kemudian lanjut di seberangnya ada Plaza Kebun Sayur, setelah lumayan puas berbelanja untuk oleh-oleh oran tua kami dan teman, kami pun merasa lapar, sekitar jam 10.49 kami ke Restaurant Kepiting Dandito, karena searah menuju bandara Sepinggan. Restaurant Dandito sangat terkenal di Balikpapan, sehingga saya pun membeli 3 kotak kepiting untuk oleh-oleh dan membawakan pesanan teman kantor. Sepertinya petualangan di Balikpapan kami akhiri di Restaurant Dandito, karena khawatir ketinggalan pesawat menuju Jakarta. Jadi saya dan adek saya memutuskan untuk tidak mampir ke tempat lain selain ke bandara. Toh Bandara Sepinggan pun enak buat dijelajahi. Beberapa spot bagus untuk foto-foto, jadi saya dan adek saya berfoto ria di bandara. Ada penari dan pemain musik khas Borneo yang menghibur para pengunjung bandara, kami pun berfoto dengan mereka. Bandara Sepinggan sangat asri dengan adanya tanaman dan pohon yang sengaja ditanam di dalam bandara, sehingga burung-burung pun berkeliaran di dalam bandara, serasa ada hutan di dalam bandara, eeeh.. serasa bandara yang ada di dalam hutan, atau apapun lah itu. Hahaha.. its so fun. ^_^b

Finally..its time to say goodbye with Borneo Island. Hope that someday i will see you again…Balikpapan. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: