The City where I was born

Tulisan ini semacam pendapat pribadi tentang sebuah kota yang memberikan pengaruh begitu banyak dalam kehidupan pribadi penulis.

Di sela-sela menulis tesis yang masih dalam tahap menunggu dosbing yang akan ditetapkan oleh akademik, tulisan ini dibuat sebagai intermezzo yang akan mewarnai blog yang sudah lama tidak diisi dengan hiasan-hiasan warna pemikiran dalam bentuk kata-kata.

And..here it is…

Kini Pekalongan lebih mahsyur disebut dengan Kota Batik (Bersih Aman Tertib Indah Komunikatif), padahal menurut penulis, Pekalongan lebih menawan dengan sebutan Kota Santri (Sehat Aman Nyaman Tertib Rapi Indah), setidaknya sebutan tersebut sudah dikenal dan diajarkan sejak dulu ketika penulis berada di bangku Sekolah Dasar. Pekalongan yang penulis kenal adalah sebuah kota yang mengajarkan bagaimana merayakan sebuah event “khatam Al-Qur’an” lebih meriah dan bermakna dibandingkan merayakan hari ulang tahun. Kota yang kini terkenal dengan Sego Megono, padahal penulis dulu tidak menyangka kalau nasi yang biasa dimakan ketika sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah, akan mendapatkan tempat tersendiri sebagai simbol kuliner khas Pekalongan.

Kota tempat anak-anak kecil diajarkan untuk selalu mengikuti ajaran agama (Islam), dalam pandangan masyarakat Pekalongan, merupakan hal yang “wajib” bagi seorang anak untuk mengaji/belajar Al-Qur’an pada seorang ustad, dan ketika anak kecil bolos atau tidak mengikuti pengajian yang ada di lingkungan rumahnya, menjadi hal yang sedikit “kurang baik”, dan mendapat stigma sebagai anak ‘bandel’.

Kota dengan orang-orang yang nyaman dengan “keteraturan”, kemapanan, menjauh dari resiko. Karena penulis merasa kehidupan masyarakat Pekalongan yang dari dulu (sejak penulis lahir tentunya, 1986) sampai sekarang tidak mengalami banyak perubahan. Kota dimana profesi menjadi polisi, bidan, perawat dan guru merupakan profesi yang sangat populer, seolah-olah mereka memiliki kasta tersendiri dalam kehidupan masyarakat. And If you use a “kromo inggil” languages in daily conversation, you will be respected as a people who have a higher social class, and unfortunately my speaking skill in “kromo inggil” is bad. -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: