Analisa Pengaruh Kenaikan PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) Terhadap Tingkat Penerimaan PPh Pasal 21 : Studi Kasus pada KPP Pratama Jakarta Tebet (Periode Desember 2012 – Januari 2013)

        I.       Latar Belakang Permasalahan

Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan bruto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam negeri dalam menghitung penghasilan kena pajak yang menjadi objek pajak penghasilan yang harus dibayar wajib pajak di Indonesia. PTKP diatur dalam pasal 7 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) merupakan unsur pengurang dalam penghitungan pajak penghasilan orang pribadi. Terhitung mulai Januari 2013 pemerintah telah menaikkan batas PTKP yang semula Rp. 15.840.000,00 kini dinaikkan menjadi Rp. 24.300.000,00 per tahunnya atau per bulan Rp. 2.025.000,00 untuk setiap wajib pajak lajang. Sedangkan tambahan bagi yang menikah dan tambahan tanggungan yang dulunya hanya Rp. 1.320.000,00 kini dinaikkan masing-masing menjadi Rp. 2.025.000,00. Dengan semakin besarnya pengurang, maka pajak akan semakin kecil.

Pertumbuhan kelas menengah Indonesia adalah yang terbesar di dunia setelah China dan India. Menurut Bank Dunia, kelompok ini adalah mereka yang pengeluaran per kapita per harinya US$ 2-20, maka terdapat sekurang-kurangnya 130 juta orang. Angka itu 56,5 persen dari total penduduk Indonesia. Pertumbuhan kelas menengah ini merupakan sasaran empuk para pembuat produk. Rata-rata mereka adalah orang muda yang berpenghasilan tinggi (US$3000-US$3500 per tahun), melekteknologi, dan ingin serba mudah.Sebagian besar dari mereka adalah warga yang gemar berbelanja.

Kenaikan PTKP ini sepertinya diharapkan untuk menciptakan multiflyer effect dibidang perpajakan. Semakin banyak orang yang berbelanja akan membuat korporasi penghasil produk, berlomba-lomba menghasilkan produk barang dan jasa untuk dikonsumsi. Sehingga omzetnya bertambah demikian juga dengan labanya yang kemudian nantinya akan dipajaki. Pajak yang terkumpul dalam pundi-pundi APBN pun akan meningkat dan harapannya mampu mencapai target sebagaimana yang dibebankan tersebut.

 

. Kenaikan PTKP ini menjadi salah satu strategi makro ekonomi pemerintah untuk menekan tingkat inflasi yang terus merangkak naik dan untuk memberikan stimulus konsumsi domestik sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan PTKP dari Rp 15.840.000,- menjadi Rp 24.000.000,- pertahunnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi 2012 yang sebelumnya pada kuartal I/2012 sebesar 6.3 persen ke level 6.5 persen.
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Tebet, merupakan salah satu dari 13 kantor pajak pratama yang ada di wilayah Jakarta Selatan, yang melayani 7 kelurahan di wilayah Tebet, yaitu Kelurahan Tebet Barat, Tebet Timur, Kebon Baru, Menteng Dalam, Bukit Duri, Manggarai, dan Manggarai Selatan.
Salah satu permasalahan yang dihadapi dengan adanya kenaikan PTKP ini adalah turunnya kontribusi terhadap penerimaan pajak penghasilan pasal 21.
Dalam penelitian ini digunakan data pembayaran PPh Pasal 21 dari 50 perusahaan yang terdaftar di KPP Pratama Jakarta Tebet, yaitu data pembayaran PPh Pasal 21 masa Desember 2012 (sebelum diberlakukannya PTKP baru) dan data pembayaran PPh Pasal 21 masa Januari 2013 (sesudah diterapkannya PTKP baru). Pemilihan 50 perusahaan ini dianggap representative (mewakili) dan memadai nilainya terhadap populasi sebenarnya.

1.2. Permasalahan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kenaikan PTKP per 1 Januari 2013akanmeringankan beban pajak penghasilan yang seharusnya dibayar oleh rakyat kepada negara melalui Direktorat Jenderal Pajak.
Berdasarkan kesimpulan yang ada, maka pertanyaan yang ingin dijawab oleh peneliti adalah apakah terdapat perbedaan terhadap rata-rata penerimaan pajak penghasilan pasal 21 sebelum dan sesudah kenaikan PTKP padaperusahaan-perusahaan yang terdapat di KPP Jakarta Tebet?
Karena perubahan tarif PTKP baru berjalan selama 3 bulan (per Januari 2013)maka peneliti membatasi lingkup penelitian berdasarkan data pembayaran PPh Pasal 21 masa Desember 2012 (sebelum diberlakukannya PTKP baru) dan data pembayaran PPh Pasal 21 masa Januari 2013 (sesudah diterapkannya PTKP baru).

2. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pertanyaan yang ada, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan terhadap rata-rata penerimaan pajak penghasilan pasal 21 sebelum dan sesudah kenaikan PTKP padaperusahaan-perusahaan yang terdapat di KPP Jakarta Tebet.

3. Hipotesis Penelitian
Hipotesis pada penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
Ho: µD = 0
(tidak ada perbedaanrata-rata penerimaan pajak penghasilan pasal 21 sebelum dan sesudah kenaikan PTKP pada perusahaan-perusahaan yang terdapat di KPP Jakarta Tebet.).
H1 : µD ≠ 0
(terdapat perbedaan signifikan terhadap rata-rata penerimaan pajak penghasilan pasal 21 sebelum dan sesudah kenaikan PTKP pada perusahaan-perusahaan yang terdapat di KPP Jakarta Tebet).

4. Metode Penelitian
4.1. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder, dimana data utama tersebut diperoleh dari KPP Jakarta Tebet. Sedangkan data penunjang diperoleh dengan membaca buku-buku wajib atau buku-buku pelengkap seperti majalah, artikel koran, dan sumber data lainnya yang berhubungan dengan penelitian yang sedang dilakukan.

4.2. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya dikarenakan keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel merupakan subset dari populasi, terdiri dari beberapa anggota populasi.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan purposive sampling, yaitu suatu teknik pengambilan sampel secara sengaja, dimana peneliti menentukan sendiri sampel yang diambil.
Populasi dalam penelitian ini adalah Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Tebet.KPP Pratama Jakarta Tebet yang beralamat di Jl. Tebet Raya No. 09, Tebet, Jakarta Selatan melayani perpajakan di 7 kelurahan yang ada di wilayah Tebet, yaitu Kelurahan Tebet Barat, Tebet Timur, Kebon Baru, Menteng Dalam, Bukit Duri, Manggarai, dan Manggarai Selatan.
Dari populasi tersebut, peneliti mengambil sampel semua perusahaan pembayar pajak PPh pasal 21 di 2 kelurahan yang ada di KPP Pratama Jakarta Tebet. Kelurahan Tebet Barat dan Tebet Timur dipilih oleh peneliti karena angka penerimaan PPh pasal 21 di kedua kelurahan tersebut terbesar dibandingkan dengan lima kelurahan lainnya.
Sehingga sampel penelitian ini adalah 100 perusahaan pembayar pajak PPh pasal 21 yang beralamat di kelurahan Tebet Barat dan Tebet Timur.


5. Hasil Penelitian
Di bawah ini adalah data penerimaan PPh pasal 21 sebelum kenaikan PTKP di kelurahan Tebet Barat dan Tebet Timur :
Tabel 1.1 Penerimaan PPh Pasal 21 sebelum kenaikan PTKP di kelurahan Tebet Barat


Tabel 1.2 Penerimaan PPh Pasal 21 sebelum kenaikan PTKP di kelurahan Tebet Timur


Setelah diberlakukannya tarif PTKP yang baru, rincian setoran PPh Pasal 21 kedua kelurahan tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 1.3 Penerimaan PPh Pasal 21 setelah kenaikan PTKP di kelurahan Tebet Barat


Tabel 1.4 Penerimaan PPh Pasal 21 setelah kenaikan PTKP di kelurahan Tebet Timur

Berdasarkan data-data yang telah dipaparkan di atas, maka pengujian hipotesis akan dilakukan menggunakan paired t test.
Tabel 1.5 Hasil olah data penerimaan PPh 21 di Kelurahan Tebet Barat

Tabel 1.6 Hasil olah data penerimaan PPh 21 di Kelurahan Tebet Timur


Berdasarkan hasil pengolahan data penerimaan PPh 21 di kelurahan

6. Kesimpulan dan Rekomendasi
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan analisis keseluruhan data dengan menggunakan perhitungan statistik Hyphothesis Testing for The Mean : Two Related Populations dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan terhadap rata-rata penerimaan pajak penghasilan pasal 21 sebelum dan sesudah kenaikan PTKP pada perusahaan-perusahaan yang terdapat di KPP Jakarta Tebet.

6.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada umumnya, dan KPP Pratama Jakarta Tebet khususnya terkait dengan adanya penurunan penerimaan PPh Pasal 21 ini, yaitu :
a. Melakukan kegiatan ekstensifikasi perpajakan melalui kegiatan Sensus Pajak Nasional. Melalui kegiatan Sensus Pajak Nasional, tentunya akan menambah data-data perpajakan baru yang dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan penggalian potensi perpajakan secara lebih maksimal. Sehingga pajak yang dihimpun oleh Direktorat Jenderal Pajak dapat bertambah.
b. Sebaiknya Direktorat Jenderal Pajak melakukan ekstensifikasi perpajakan untuk jenis Pajak Pertambahan Nilai (PPN), karena dengan adanya penurunan PTKP akan meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga menaikkan tingkat konsumsi masyarakat. PPN merupakan pajak yang dikenakan atas setiap konsumsi barang dan jasa yang dilakukan di dalam negeri yang besarnya 10%. Peningkatan jumlah konsumsi masyarakat ini pada akhirnya akan menambah PDB (produk domestik bruto), sehingga dengan kenaikan PTKP, maka daya beli masyarakat juga akan meningkat. Dan pada akhirnya potensi penurunan di sektor PPh akan tergantikan oleh pajak atas konsumsi masyarakat, yaitu Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
c. Direktorat Jenderal Pajak harus meningkatkan intensifikasi perpajakan sektor-sektor strategis seperti pertambangan, migas dan kelapa sawit, yang memiliki potensi pemasukan pajak yang terbesar. Sehingga potential loss akibat kenaikan PTKP yang menyebabkan penurunan penerimaan PPh 21 dapat digantikan.

4 responses

  1. ini kalau mau download jurnal lengkap yang anda tulis dimana ya? bisa tolong dikirim lewat email saya beserta kuisonernya mungkin🙂
    terima kasih

  2. Mbak ini skripsinya udah jadi? Aku boleh minta softcopynya utk referensi ga? Kebetulan temanya sama. Makasih🙂

  3. @ Dinda & Helti : ini sebenernya tulisan buat tugas mata kuliah metode kuantitatif & aplikasi statistik, jadi pembahasannya ga men-detail. Sebatas hitung2an sederhana.. ga ada questionaire ataupun hitungan menggunakan SPSS/Lindo.. jd ga bisa membantu banyaak..😀 tapi sebenernya case ini klo mau dipertajam bisa jadi tulisan yang menarik..🙂

  4. Boleh minta rekomendasi cara hitungan lain untuk liat pengaruh kenaikan ptkpnya ga, Mbak? Background ku akuntansi soalnya, cuma tau sedikit ttg statistik. Mohon bantuannyaaa😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: