di Tano Batak (6-7 Oktober 2012)

Memahami kultur budaya masing-masing suku/daerah di Indonesia memang sulit. Masing-masing harus dipahami sebagai sebuah ‘nilai-nilai’ yang mau gak mau harus kita terima, walaupun sebenarnya gak sreg di pemikiran kita. Ini perjalanan untuk pertama kalinya saya ke Medan, dan mungkin untuk terakhir kalinya. Medan kota yang keras bung!😀

Seorang kawan dekat, rekan kerja, teman berbagi cerita, sohib travelling, akan melangsungkan pernikahan pada 7 Oktober 2012. Of course, i dont want to miss the wedding. Akhirnya berangkatlah kami satu rombongan dari KPPP Jkt Mampang, yang sebagian personilnya sudah pindah ke kantor lain.  Kami terbang menggunakan jasa maskapai penerbangan Mandala. Berangkat penerbangan pukul 04.30.  Dan pulang dengan penerbangan pukul 20.55 (+- 48 jam)

Personil jalan-jalan :

Ketua tim                                       :  Pak Aris (bapak kasubag umum)

Beberapa eselon 4 lainnya       : Pak Fajar, Bu Ine, Bu Endang

Anggota                                          : Bu Nani, mba Rina Umum, anaknya bu Endang, anaknya pak Fajar, Mas Marlin beserta istri dan anaknya si Kaindra (btw, ini penerbangan pertama kalinya bagi mas Marlin & keluarga lho, heheh)

Tim Rusuh                                      : Listra (sebagai guide), mba Fenny (sebagai Syahrini), mba Paulin & Mas Wisnu (sebagai pasangan suami istri Jawa :-p ), Nay (sebagai EO), Yoanita (sebagai anak magang), Mba Wied (sebagai temen satu kamar kosan si penganten) dan saya sendiri sebagai Bendahara.

Personil lain yang menyusul : Pak Imam & pak Zamzuri, Mba Dita dan mas Pendoy. Ada satu lagi personil yang berangkat dan pulangnya bener2 sendirian terpisah dari rombongan, yaitu bu Ida (ex-bos si Penganten).

Sekitar pukul 06.30 waktu setempat, mendaratlah kami di Bandara Polonia Medan, dan ternyata kami sudah ditunggu sama calon penganten dan 3 mobil sewaan. Rombongan langsung meluncur ke tempat sarapan yang letaknya gak jauh dari bandara, tepatnya di Nasi Soto H. Anwar Sulaiman Jl. B. Katamso No. 48 Medan. Disini kami masih dapet tarif makan yang lumayan murah, kami cuman membayar Rp. 331.000,- saja untuk sarapan satu rombongan. Saya katakan murah, karena nanti ada satu rumah makan yang bikin kami terpana, harga yang dikasih mereka benar2 sadis :p

Ok, setelah puas dengan sarapan soto, 3 mobil sewaan langsung meluncur ke daerah Berastagi, klo orang Jakarta bilang, Berastagi ini Bogor-nya Jakarta alias ke puncak. Kami pun melewati jalan terpanjang yang pernah kami kenal, namanya Jalan Jamin Ginting. Jalan Jamin Ginting ini salah satu jalan terpanjang di Indonesia (+- 78 KM), yang terbentang dari Medan hingga Berastagi.

Di sepangjang jalan kami ketawa-ketiwi dan cerita ngalor ngidul biar gak bosen selama perjalanan panjang. Untunglah personil muda2 disatukan dalam satu mobil, jadi lebih bebas berekspresi. Yuppz, coz we are young wild and free :p .

Posisi duduk di mobil kami :

Mas Wisnu di samping abang supir.

Lini Tengah : Mba Polin, Listra, mba Fenny

Lini Belakang : Mba wied, Nay dan akyu sendiri.

Karena dirasa agak lapar, mampirlah kami ke kedai bakar jagung sebentar. Beberapa personil rombongan memesan jagung rebus dan jagung bakar, lainnya hanya memesan minuman. Sementara saya sendiri tertarik untuk mengambil gambar kera-kera yang bermain di sekitar kedai. Si Kera-kera itu sebenarnya liar, tapi sedikit jinak, dan pada dasarnya mereka takut sama manusia.

Selesai rehat beberapa menit, kami buru-buru naik mobil untuk mengejar waktu ke Danau Toba agar gak kemaleman. Akhirnya saking buru-2nya jaket Listra pun ketinggalan. Terpaksa mobil kami personil muda2 ini, memutar balik. Padahal mobil sudah melaju beberapa kilometer jauhnya dari kedai jagung. But, there was no regret, its always fun for us. We only said “kayaknya de javu yaaa.. nglewatin jalan ini lagi”. Hehehee..😉

Pas terik-teriknya matahari, akhirnya kami sampai di Puncak Gundaling, Berastagi sekitar pukul 11-an. Gak pake lama-lama, kami langsung foto-foto, jeprat-jepret, satu dua tiga, pasang senyum manis, selesaaaiiii..bubaaaar!. Karena sepanjang jalan dari tempat parkiran mobil ke tempat berfoto banyak yang berjualan aksesoris, kami pun membeli beberapa suvenir, saya sendiri membeli gelang bertuliskan Berastagi. Padahal komoditi khas di Gundaling adalah buah-buahan, tapi karena males repot, gak kebeli lah buah jeruk & markisa yang katanya populer itu.😀

Gundaling ini termasuk dalam kawasan Tanah Karo, sepanjang jalan banyak bentuk bangunan dengan atap, klo saya boleh komentar, mirip semacam rumah burung merpati. Xixixiix..😉

Puas berfoto di Gundaling, perjalanan lanjut ke Parapat yang panjaaang & berliku, serta sangat “melaparkan” perut. Tapi walaupun perut kami lapar, hmmmmmmmmmm…. tunggu dulu, sepertinya rasa lapar pengecualian bagi mba Syahrini alias mba Fenny, karena sepanjang jalan, beberapa menit sekali doi selalu nyemil snack yang dibawanya sendiri. Hohoooy…

Balik lagi ke masalah lapar tadi, ajaibnya rasa lapar kami menghilang beberapa saat melewati hamparan pemandangan Danau Toba yang kami liat sepanjang jalan di Parapat. Sesekali kami bilang “Wooooooooow” tapi gak sampe guling-guling/koprol/salto, karena berbahaya, dikhawatirkan tiba2 nyemplung sampai di Danau Toba. Hehhehe..

Kami bilang “wow” bukan karena mengikuti trend anak gaol edisi jaman sekarang, tapi memang karena perjalanan yang jauh dan melelahkan dari Jakarta akhirnya bisa terlunasi dengan setimpal. Yes…., Lake Toba, is our main destination when we arrived at Medan. ^___^

Sebagai pelampiasan kekaguman kami, akhirnya mobil pun berhenti parkir di samping jalan yang view Danau Toba-nya bisa terlihat bagus buat difoto. Walopun panasnya lagi banget-bangetnya, kami tetep seru-seruan aja pasang gaya di depan jepretan kamera. Kami semua gak menghiraukan mobil yang lewat di jalanan tempat kami berfoto2. Bahkan demi mendapat view Danau Toba yg lebih utuh, kami sampai naik ke tebing (gak curam2 bgt sih :p ) , kebetulan di sisi jalan yang lain ada bagian tanah yang lebih tinggi posisinya, kami naik ke atas tebing itu walupon susah dijangkau naik & turunnya, yang penting usahanya cuuuy…😛

Setelah lelah berfoto-foto, perut kami gak bisa bohong. Akhirnya perjalanan pun dilanjutkan ke tempat makan dan terpilihlah salah satu Resto Minang Gumarang (GMR), Padang Pariaman, Jl. SM. Raja No. 38 -39 Telepon 0625-41720 PARAPAT. Harap dicatat yaaa….
Sodara-sodara, saya bold nama resto minang tadi karena penting bangeeeets. Scara mereka telah menetapkan harga sukak-sukak mereka sendiri dengan semena-mena.

Bayangkan saja 1 piring nasi putih seharga Rp. 6.000, 1 mangkuk sayur Rp. 8.000 dst. saya gak sanggup menulisnya lebih lanjut. Mari doakan bersama smoga pemiliknya cepat naik haji & insyaf.

Jadi sudah pasti saya dengan hati merekomendasikan agar anda jangan segan-segan untuk mampir ke resto tersebut, cuman buat menilai bagaimana lola-nya para pelayan dalam melayani pesanan customer. Sekian testimoni dari saya tentang RM Gumarang, daripada nanti saya dikira mencemarkan nama baik mereka. Hohoohho…

Usai makan, saya menyempatkan diri mampir ke salah satu masjid yang gak jauh lokasinya dr resto minang tadi untuk mendirikan solat Dzuhur & Ashar secara jama’. Dan di masjid tersebut ramai dengan anak TPA. Lucunya saat saya sedang mengambil air wudhu, saya melihat seorang guru TPA sedang memarah-2i segerombolan murid2nya yang susah diatur, dengan suara yang lantang sekali bak kondektur kopaja. Hahahhaha… Medan..oh Medan… beginikah wajah asli dari sosial masyarakatmu… No offense for all Bataknesse people🙂

Setelah dirasa cukup ishoma-nya, kami kemudian berjalan ke pelabuhan tempat kapal2 disewakan untuk mengantarkan orang2 yang ingin menyeberang ke Pulau Samosir, tepatnya ke Tuk Tuk Island, tempat dimana ada si Patung Sigale-gale yang fenomenal bersemayam :p

Awalnya penyewa kapal memasang harga 800 ribu untuk mengangkut kami PP, padahal harga normalnya cuman 20 ribu per orang. Jumlah rombongan kami ada 20 orang, jadi harga wajarnya cuma 400 ribu saja. Setelah ditawar dengan debat menggunakan bahasa asli daerah sana (udah pasti Listra yang maju, heheh…) akhirnya kami sepakat di harga 600 ribu untuk perjalanan PP. Kebetulan ibu-nya Listra datang dan memang udh janjian buat ketemuan dg Listra, jadilah guide kami nambah satu orang. Hihihi…

Selama perjalanan di danau Toba, kami disuguhi pemandangan danau yang eksotis, kapal kami merapat ke Batu Gantung Parapat, yang konon tempat seorang putri bunuh diri menjatuhkan tubuhnya ke bawah karang di Danau Toba. Namun, sepertinya usaha sang putri gagal, raga-nya gak sampai jatuh ke dasar danau, namun tersangkut di tebing karang. Dan menurut mitos orang2, tubuh sang Putri inilah merupakan wujud dari batu Gantung itu sendiri, yang merapat ke karang, jadilah sebuah nama Kota Parapat, yang berasal dari “merapat”, kurang lebih seperti itu cerita yang saya dapat dari Guide Listra😀

Perjalanan sore itu benar-benar romantis ditemani cahaya senja matahari yang malu-malu, dan jugaaaa dingin.., karena angin yang bertiup cukup kencang sekali. Hohoo…

Tidak terasa kapal pun berlabuh di Tuk Tuk Island. Yeiiiiyyyyy…….Horaaaaaasssss!!!!!

Kami langsung menyewa guide di Tuk Tuk Island (tarif guide-nya sebenarnya kurang tau harga pastinya berapa sih, tapi kami kasih aja Rp. 50.000). Dan untuk melihat atraksi si boneka Sigale-gale kami harus membayar Rp. 80.000 untuk satu kali pertunjukan. Kami disuguhi jalan cerita & sejarah dari patung Sigale-gale, kemudian kami harus menari Tor-Tor bersama si Patung. Di akhir tarian, jangan lupa untuk menyawer si Patung, dengan menyelipkan uang di antara jari tangan si Patung. Euforia menari & menikmati pertunjukan si Patung benar2 membuat kami lupa waktu. Hehe.. padahal ada satu tempat di Tuk Tuk Island yang harus dikunjungi, yakni makam Raja-raja Samosir. Di lokasi makam, kami pun dikasih cerita tentang asal usul sang Raja dan beberapa falsafah orang Batak. Simbol cicak yang ada di gapura tempat pintu keluar makam, menunjukkan kalo Orang Batak harus bisa hidup(beradaptasi) dimanapun berada. Scara cicak selalu bisa hidup di rumah manapun. Ada juga simbol 4 payudara, yang artinya Lelaki Batak harus memilih seorang istri yang subur (bisa melahirkan anak banyak dan sehat). Kurang lebih demikian isi wejangan dari sang guide. hehhee…

Setelah selesai pertunjukan dari sang Guide, kami pun mampir ke toko suvenir, lamaaa sekali kami berbelanja. Sampai lewat masa maghrib. Ngantuk, laper & capek campur jadi satu. Akhirnya kami naik kapal menuju daratan. Suasananya pun gak kalah romantis sama perjalanan berangkat. Tapi perjalanan kali ini lebih bisa kami nikmati, secara kami sudah habis energi, dan cuman bisa diam menikmati pemandangan danau Toba di malam hari.

Whosaaaaah, nyampe juga di daratan Parapat. Siap2 buat menempuh perjalanan kembali ke Medan. Untuk mencharge energi, kami makan malam di RM burung dara. Ada juga yg mengerjakan solat Maghrib dan Isya dulu. Selesai rehat sejenak, perjalanan pun berlanjut. Dengan sisa2 tenaga, kami masih bisa bercerita2 di mobil, sambil mendengarkan musik. Kurang lebih pukul 1 dini hari kami tiba juga di penginapan. Sementara aq, Nay, mba Wied sm Yoan harus menginap di Hotel Lexus. Gak kebagian tempat di home stay tempat yang lain tidur. hiiiks….

Ting Tong… setelah beberapa menit memejamkan mata (klo gak salah saya baru tidur sekitar pukul 02.30 waktu Medan), hari pun berganti menjadi hari Minggu. Mandi pagi dan bersiap-siap untuk hadir dalam acara akad nikah mba Dani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: