I wanna Tell about A Teller Story

You are what are you dreaming for. Being a Teller? Kadang sampai sekarang saya sendiri masih heran sama profesi yang satu ini,koq bisa yaa..saya pernah menjalani profesi sebagai seorang Teller, yaaaah..although its only in 5 months. Dulu memang sempat beranggapan, klo seorang Teller itu pekerjaan yang bergengsi, karena berhubungan dg uang yang banyak. My mind was suggested by that time, masyarakat kampung menganggap keren seorang pegawai Bank, karena kebetulan Bank di sekitar kampung saya memang jumlahnya cuma bisa dihitung dg jari.

Iseng punya iseng, sejak menjelang lulus kuliah, saya menyebar surat lamaran ke beberapa bank. Salah satunya Bank Danamon, saya apply via online maupun via fisik (lewat pos). Ternyata setelah beberapa lama, akhirnya saya terpanggil untuk ikutan tes. . Padahal pada waktu itu saya masih mengabdi menjadi Guru di SMK NU Ma’arif Kajen, Pekalongan (whatta funny and unforgettable memory being a teacher at my own village, and i was an accounting teacher by that time..whohohoh..), ^_^
dengan berbekal muka tembok, saya beranikan diri untuk minta ijin ke Kepala Sekolah agar bisa mengikuti tes dari Danamon.. padahal sih gak ngaruh juga, soalnya gak berbentrokan dengan hari jatah saya mengajar. Akhirnya, saya bela-belain bolak-balik Pekalongan-Jakarta, karena tes-nya gak cuman satu tahap.

Sabtu subuh saya sampai di Jakarta, kemudian paginya saya langsung berangkat ke Bank Danamon Matraman. Perjuangan bolak balik Jakarta-Pekalongan waktu itu saya lakukan antara beban sm “following my faith”. Knp beban? Waktu itu demi menuruti keinginan ibu saya agar bisa bekerja di kampung sendiri, akhirnya saya harus menerima tawaran mengajar di SMK NU Ma’arif. Tapi, bukan berarti saya tidak suka mengajar di SMK NU Ma’arif. Saya sangaaat…sangaaaaat bahagia sekali pernah menjadi bagian dr SMK NU Ma’arif. Agaaaaain.. although its only in a month. Yuupppz, very2 short time.

Di Danamon Matraman saya melalui beberapa tahap tes dari pagi hingga siang hari, ternyata saingannya banyak juga booo’, belum sempet sarapan pulak. T_T. hiiikkkkz…😦

Ujian pun berlangsung, baik dari psikotes sampe pauli test, menggambar dan lain2. Tapi karena udah saking seringnya ikutan tes melamar kerja…alhamdulillah saya lolos tes tahap pertama. Tes selanjutnya adalah wawancara. Saat itu tes wawancara dilaksanakan di Danamon Abdul Muis. Disanalah saya ketemu seorang temen yang baik, bernama Okta… hehee…kebetulan dia bareng sm cowok-nya, yang sama2 lolos tes seleksi pertama. Tapi akhirnya, yang lolos wawancara cuman si Okta.

Saat tes interview pun saya gak nyangka bisa lolos, padahal saat itu saya mengenakan jilbab yg lumayan lebar, dan pake baju muslimah, pokoknya hampir bisa dikatakan saltum (salah kostum) buat wawancara, yang idealnya harus pake kemeja & sepatu pantofel. Pun tetep yaaa.. dengan bekal muka innocent tanpa make up. Aduuuwh, klo dibayangin jadi malu sendiri. Hihihihihi… *sebenernya niat ngelamar kerja gak siih guweeh ??? * hahaaa…
Interviewer waktu itu 2 orang ibu2, dan pas tes interview saya ditanya “lebih memilih menjadi Teller atau Customer Service?”, saya secara reflek menjawab dengan polosnya “Customer Service” (dalam hati berpikir terlalu riskan klo menjadi Teller), Ibu pewawancara kemudian melanjutkan “kenapa bukan memilih Teller?”. Saya jawab kurang lebih “soalnya kalo Teller harus cantik, tinggi, tapi klo Customer Service enggak..bla..bla..” wkwkwkwkwkk… jawabannya asli cupu bangeeed,… Ketauan klo sebenernya saya gak ngerti profesi yang sebenernya bakalan saya geluti… what a fool i am… huuuuufh… At the end, pas terjun ke lapangan, akhirnya saya tau klo CS (Customer Service) juga harus cantik, tinggi, dan berkepribadian menarik karena selain melayani pembukaan rekening baru, ia juga harus pandai menjual & menjelaskan produk yang dijual Bank. Kirain saiya CS itu semacam back office yang kerjanya melayani keluhan nasabah, jadi gak musti dandan. *ngoooookkkkk….* *hammer* *hammer* :))

Akhirnya terpilihlah saya jadi Teller, meskipun masih bingung, koq jadi Teller sih? Masih gak rela gitu..What the hell lah…yang pasti saya dipanggil lagi buat tes kesehatan di Lab Prodia Kramat Raya. Jadi harus bolak-balik lagi Pekalongan-Jakarta. Setelah tes kesehatan, saya udah yakin bakalan diterima di Danamon. Jadi dengan sedikit menanggung perasaan berdosa, saya mengajukan resign sebagai guru di SMK NU Ma’arif. Hehee, maaf ya pak Kepsek. :p . Lagian i dont have any passion of being a teacher. *dalam bayanganku waktu itu, bisa2 aq bakalan nikah sama guru…..teruuuuus, beranak dan akhirnya menua di kampung..hiiiks… aaaaaaarghhhh…no..no…no way…kayaknya saiya bener2 apatis banget sm kampung yaaak.. akakkakak* i believe i could do more, and i knew that. Hahahahayy…

Setelah didiklat selama 2 minggu, baik di Danamon Hasyim Ashari maupun di Kampus Danamon Ciawi, saya yang masih cupu inih (masih membawa karakter anak mahasiswa) akhirnya diturunkan ke lapangan. Jadilah saya Teller instan di Bank Danamon Cabang Cipulir, salah satu cabang bank yang sangat hectic sehari2nya, karena lokasinya yang amat sangat terlalu strategis,  yakni di samping pasar Cipulir, which is setiap detiknya terjadi banyak sekali transaksi keuangan baik yg non tunai apalagi tunai. Banyak uang berputar di pasar (duitnya segepok-gepok lah klo dikumpulin, bahkan dalam sehari pernah 2 x manggil CCV-jasa pengiriman uang- karena uang di kas ada lebih dari 2 M).

Di Danamon Cipulir saya ketemu dg mba Rini Noviyanti, mba Heni dan mas Sulaeman (panggilannya mas Leman), Head Teller-nya aq lupa namanya, klo BSM (Branch Service Manager)-nya pak Edo.

Di Danamon Cipulir saya bener2 digembleng habis-habisan, 2 minggu awal penempatan memang belum dikasih login sendiri, jadi masih bantu2 dan belajar sama Teller yang senior, kadang disuruh memfoto copy… hiiks..memang klo kerja di swasta gak peduli sama jenjang pendidikan terakhir yg anda dapat, yang utama adalah senioritas. But somehow, i didn’t care, soalnya saya sudah pernah ngerasain disuruh foto kopi saat magang di KAP Drs. Chaeroni & Indra. Alhamdulillah pengalaman mengajarkan saya untuk tidak cengeng. Coz i’m sure that someday im gonna be a future leader. Im very sure about it. Hihihi.. (but remember Rinaaa…”do not tell the world what you can do, just “SHOW IT!”-Napoleon Hill). Seorang leader, harus pernah merasakan menjadi seorang follower alias orang suruhan. Dan dia menjalani smuanya tanpa menunjukan rasa mengeluh di depan orang lain.

Setelah menjalani rutinitas hari demi hari di Danamon Cipulir, akhirnya kabar gembira itu datang juga… saya dinyatakan lolos tes tahap pertama di Depkeu. Thats what make me keep hoping and hoping, but still prepare for the worst.
Oiyah, satu hal yang  agak lucu, pernah suatu hari saya dipanggil menghadap Pak Edo, gara2 diprotes sama pihak kepegawaian Abdul Muis, jilbab yang saya kenakan pas dateng ke Danamon Abdul Muis untuk mengurus administrasi seragam dsb. katanya terlalu lebar, padahal selama saya bekerja di Danamon Cipulir, saya selalu memasukkan jilbab saya ke dalam kemeja. Jadi pak Edo dan saya gak terlalu ambil pusing. Some people are too busy stepping on the other people life.

Kurang lebih 2 bulan saya belajar & bekerja di Danamon Cipulir, dan sudah mulai ‘kerasan’ (betah). Tapi ternyata Bank Danamon sedang buka cabang baru di daerah Perjuangan, Kebon Jeruk. Akhirnya saya dimutasi ke sana, waktu itu pas menjelang bulan puasa Ramadhan. Di Danamon Perjuangan saya bertemu Rizka, Anwar & Dessy. Semuanya masih newbie di Danamon. Masih muda2 smuanya. BSM-nya pun masih baru. Awal-awal pembukaan cabang, kami ribet disibukkan dengan segala perabotan baru. Making sure everything were working out. Bahkan kami pernah sampe pulang jam 10 malem, gara2 masalah mesin ATM yang gak kelar2. Dan lagiii… i never said ‘huh’ for everything that i’ve done. I really enjoyed the process. Dan kebetulan waktu itu saya ada planning i’tikaf di masjid Pondok Indah, akhirnya saya nebeng membonceng Dessy yg kebetulan bawa motor dan turun di sekitar kawasan Ciledug. Jadilah malam itu selepas jam 10 malam kelayapan di jalanan, meluncur ke Terminal Blok M dulu baru naik metromini 72 arah Pondok Indah. Alhamdulillah jam 11 malam, saya sampai juga di masjid Pondok Indah. Whatta day… hohooooh…

Di Danamon Perjuangan saya juga mengalami pengalaman yang gak kalah serunya. Sesaat setelah Lebaran saya mengalami kecelakaan motor ringan, yang menyebabkan lecet dan memar di muka & badan. Karena waktu itu statusnya belum diangkat menjadi karyawan tetap (karena harus bekerja 3 bulan dulu baru diakui sebagai karyawan tetap) jadi belum dapet hak cuti tahunan. Dengan terpaksa hari pertama kerja harus menontonkan memar2 dan lecet di muka ke semua nasabah yang datang. Antara malu, risih dan gak ngerti musti ngapain lagi. Tapi tetep dengan segala kondisi yang ada waktu itu, i still moving on. Di Danamon Perjuangan pun saya sudah merasa betah sama temen2 & lingkungan kerjanya, dan pasrah kalo pun gak lolos tes Depkeu, tapi Alhamdulillah saya lolos Psikotes.

Dan lagi2, baru sebulan di Danamon Perjuangan tiba2 datenglah Ali Nurman (temen seangkatan yang sebelumnya penempatan di bagian Monitoring Kantor Pusat) katanya dia diturunin ke lapangan untuk jadi Teller. Wedeeewh, gimana ceritanya inih, komputer Teller cuman 2, berarti akan ada salah satu Teller yang mundur. Akhirnya saya dapet titah mutasi kantor lagi, ke Danamon Taman Ratu. Kurang lebih begitulah sistem permutasian di Danamon. Dan gak jarang beberapa temen angkatan yang selalu jadi Teller ‘pinjaman’, misalkan ada salah satu cabang yang kekurangan orang.

Ketemu kantor baru lagi, ketemu orang2 baru lagi.. im happy with it, coz i will get a lot of friends. Di Taman Ratu, kantornya lumayan kecil. Disini saya bertemu dengan mba Tanti, seorang Teller yang lumayan senior, Doddy Ramidi (CS magang, krn dia direkrut dr perusahaan outsourcing), mas Agis (CS senior), mas Anton, mba Grace, mas Allen (akhirnya qt gak sengaja ketemu lagi di Food Louver Grand Indonesia thn 2012, katanya mas Allen udh resign & keterima di BCA). Di Taman Ratu, BSMnya lumayan saklek, dan itu membuat saya makin pengen cepet segera resign dr Danamon. And the more annoying things is ‘terror’ dr Satpam yg ada di Danamon Taman Ratu. Saya menyebutnya terror, karena satpam yang bernama pak Wanto, suka miscall malem2 dan pernah motret2 saya candid gak jelas. Kayaknya dia ngefans gitu sama dirikyuuuu… weqeqeeq… trus klo ngobrol suka gak jelas bin gak nyambung. Agak freak gitu deh. Setiap dia tugas jaga, saya ngerasa seharian itu adalah hari paling membosankan yang harus dijalani, walopun sebelum2nya sih kadang dpt sms atau telfon gak penting dr OB Danamon Cipulir, tapi yg ini really2 bothering me. Belum lagi sifat bossy dr BSM & keluhan2 dr mba Tanti & Doddy atas perlakuan atasan & pihak Danamon ke mereka. Makin gak sabarlah saya untuk segera resign dari Danamon. Lagi2 kondisi kayak gini, bikin saya mulai kehilangan tujuan and wanna everyting getting over so quickly. Saya bulatkan tekad, pokoknya bulan Desember saya akan resign dari Danamon, walaupun harus jobless.

Alhamdulillah … a good news came to my life. 12 November 2008 saya dipanggil tes kesehatan oleh Depkeu. Akhirnya saya ijin gak masuk kantor untuk tes, pokoknya udah gak peduli lagi gimana pendapat atasan tentang saya, daripada saya harus bohong klo saya gak masuk kerja karena sakit atau hal lain. Bener2 seperti perjuangan beradu nasib. Untunglah di samping persis Danamon Taman Ratu ada warnet, jadi sewaktu2 bisa ngecek perkembangan penerimaan di Depkeu. Jadi gak berasa seperti katak dalam tempurung banget. Saya bener2 belajar untuk legowo di Danamon. Walopun pernah satu hari ada nasabah Danamon Taman Ratu yang marah2 sampai teriak2 gara2 tidak mau menyerahkan foto copy KTP nya untuk transaksi tunai yang ia lakukan. Whats the point yaaa dia marah2 waktu itu? Klo cuman pengen nunjukin dia adalah salah satu nasabah Privilege. Dan saya harus menghadapi nasabah pemarah itu sendirian. Yuuupz, bener2 sendirian, dan wajib melayaninya tanpa emosi. Tanpa pembelaan dari BSM. Padahal jelas2 saya bekerja sesuai SOP yang ada. Karena smuanya sudah memaklumi hal2 yang demikian, jadi bukan sebuah masalah yang besar klo ada nasabah marah2, apalagi ke karyawan yg masih junior. Once again, i keep careless and keep moving on and still breathing until now… Hahahhaaa.. *im so sorry of being so stubborn here*

Sampe tibalah pengumuman kelulusan Depkeu 3 Desember 2008. Antara excited dan berat hati, saya harus resign dari Danamon, letting go all the memories dan hal2 besar yang pernah mampir dalam kehidupan saya. Coz im ready for anything and everything, saya siap untuk hal2 besar baru lainnya. Big things are waiting me out there. Im ready explode on the thing i dont know before. Satu hal yang membuat saya senang di Danamon, adalah saya bisa belajar bagaimana menekan rasa kekecewaan & menerima semua hal yang terjadi dengan hati besar. Entah kenapa saya selama menjadi Teller di Danamon selalu menerima dengan lapang dada atas smua aturan yang ada, mulai dari mematikan hape saat bekerja, tidak makan/ngemil saat bekerja, selalu memakai name tag. Dan aturan2 agak rempong & klise lainnya, yang pada akhirnya aturan2 itu smuanya saya langgar ketika bekerja di DJP sbg bukti i still can serve with my best to all of my customer without losing my ‘happy things’ (maaf klo sedikit arogan). Yahohoooo…. Serasa jadi anak rumahan yang dikekang terus dilepas ke dunia yang dia bisa melakukan smua hal yang ia sukai.. I love freedom… *bouncing like a Tigger-Winnie The Pooh*

Keep believing and moving on… coz u’re never walk alone… thx to all of Danamoners & Ex-Danamoners angkatan 2008 (Deden, Fitri, Riski, Fani, Tika, Yana, Maia, Okta, Vita, Melan, Dhita, Margaret, Ayu, Yuni, Mala, Ali, Dhimaz, Caca, Vidya, Sisca, Anwar, Akbar, Ratih, Lydia, Sarah, Fitria Sari dkk.)

36 responses

  1. mba..ceritanya inspiring bgt, aku lg ngalamin kejadian yg sama ni,, mimpi aku bnyk tp skrng aku lg mentok jadi teller😀 makasi ya mba, aku ijin reblog di blog aku

    1. Thank you Fatima… memang paling seru kalo nulis ttg kisah pribadi.. silahkan klo mau di re-blog..

  2. mba mw tanya, dulu testingx ap ja pas jdi teller n apa sih rahasia suksesnya? makasi mba…

    1. testingnya kayak tes masuk kerja pd umumnya.. ada matematika dasar, psikotes, pauli tes, interview sm tes kesehatan… sebenernya dulu gak apply buat Teller sih, cuman kebetulan posisi yg dibutuhin buat Teller sm Customer Service. Kalo yg blm ngerasain jd Teller, pasti mikirnya kerjaannya enak..hahaa.. tp klo udh terjun langsung, pfyuuuh.. resiko kerja-nya gede juga.

  3. cerita yang baguss bgt
    akhirnya gmn mba keterima dikemkeu??
    saya bsk dipanggil danamon utk tes jd teller mba..

    1. sejauh ini sih bersyukur banget bisa gabung di keluarga besar salah satu instansi terbesar negeri ini.. apalagi udh menerapkan reformasi birokrasi. Kami bukan PNS biasa, bagi kami PNS = Pegawai Negeri Swasta.
      waaaah, smoga lulus tes-nya yaa Indra.. good luck to you..🙂

  4. Inspiring banget mbak..Thanks ya🙂

    1. my pleasure Icha..🙂

  5. hehehe,,aku juga jadi terinspirasi. aku baru lulus dan lagi mencari jati diri dalam hal menemukan profesi yang tepat n sesuai dg karakter aku. banyak liku liku yg telah aku lalui tapi lum menemukan yang klop….semoga aku cepat menemukan tambatan profesu yang setia seumur hidup amiiin

    1. @ekowahyudi : seeep… smoga segera dapetin pekerjaan yg sesuai dg passion-mu… tetep semangat & jgn lupa banyak2in do’a juga yaaa… ^^

  6. aku juga kepengen jadi teller mba ..
    oia waktu medical check up diperiksa gigi nggak mba ??
    soalnya gigi depan saya gak rapi n gingsul … hee

    1. @monica : waktu itu sih..,ga pake check gigi.. hehe.. pengen jadi Teller? boleh aja.. tapi jangan dijadiin profesi mutlak yaa, klo sekedar buat pengalaman sih boleh aja… masih banyak profesi lain yg lebih worth it lhooo..😛

  7. inspiring banget kisahnya mbak..
    aq lg bingung ni antara mau daftar teller atau customer service. Kan ada tuh lowongan kerja yang bilang gini “frontliner (teller dan customer service)”. sebenarnya sampe sekarang masih suka bingung, artinya itu tu milih salah satu atau gimana siih? jd bingung jg kalo pas nulis surat lamaran. mohon bantuannya mbak🙂

    1. iyaa… klo aq dulu ditanya sm interviewer, disuruh milih mau jadi teller atau CS, dan disuruh ngasih alasannya. Naaah..dr penjelasan qt itu, nanti si interviewer bakalan tau, sebenernya qt lebih cocok sebagai teller atau CS. Klo teller kan butuh kehati2an dan ketelitian dalam menghitung uang, sementara klo CS lebih ditekankan bagaimana berkomunikasi yg efektif dg nasabah. Teller maupun CS di bank manapun biasanya disuruh menawarkan produk2 dr si bank, jd sebenernya antara teller maupun CS bedanya tipis. So… the choice is in your hands Keisya.🙂

  8. Mbak, ini mau ada bukaan cpns di kemenkeu bulan ini tahun 2013. untuk jurusan D3 Bahasa Inggris masuk kualifikasi ngga ya? soalnya aku kuliah di 2 jurusan. D3 Bahasa Inggris sama S1 Pendidikan Bahasa Inggris.

    1. hehee… kurang tau Wahyu, kemenkeu ada posisi buat sarjana pendidikan ga yaaa???? hehe… tp coba aja ikutan job fair kemenkeu, ini link-nya http://rekrutmen.depkeu.go.id/JadwalJobFair.asp . Tapi sepengetahuanku sih, kemenkeu ga ada posisi buat sarjana pendidikan. Good luck yaa Wahyu..🙂

  9. aku keterima jadi teller, besok tes kesehatan. tp aku bingung,abisnya aku msh kuliah. udah lulus d3 tp ni lg tranfer ke s1 gt critanya. tempat kerjanya beda kota sm kuliahku. nah ntu yg bkin galau. mnurut mbak gimana? pilih tellernya apa kuliahnya ni? kl pe d3 doang ga puas ni

    1. @Friska : prioritas sih balik lagi ke Friska.. soalnya gak mungkin dua2nya dijalanin, kecuali tempat kuliahnya satu kota dg tempat kerja.. Antara lebih memilih kuliah, atau lebih memilih karir sama2 pilihan yang bagus.. Mending didiskusikan lagi sm orang tua Friska…

      1. Aku bru 1 minggu jd PBO nih, tp pas dipikir2 bukan basic aku jd marketing . Kira2 kalau mau keluar tuh bisa gak yaa? Masa percobaan kan 3bln

      2. @Lina : bisa aja ngajuin resign, tp tentunya ga dapet reference letter dari company-nya, trs klo dlm masa percobaan, pegawai belum dapet hak cuti.

  10. aku gak suka jd AO ternyata…hmm

    1. @Wilda : kerja di bank memang tantangannya berat… hehehe…tp lebih bagus lagi klo do what you love🙂

      1. iyaa mungkin bukan basic jg di marketing.. cm masih pingin di perbankan.. kli ini coba daftar frontliner .. smoga sj kepanggil :D… makasih yaa sharing2nya

  11. mbk mo nanya, aq kn nasabah danamon lebih program lock n lock,
    aq liat saldoku kok cm 50 rb

  12. cerita nya mirip bgt sama aku mba, dulu juga pola pikir bgtu kerja jadi teller itu keren dan bisa jadi mutlak untuk trs survive di bidang itu..
    tapi semakin kesini, semakin menyadari if i can do more than be a teller..
    pokonya setelah lulus kuliah nanti..
    pasti bakalan resign and get a new job yang sesuai passion dan salary nya juga worth it.. ^_^ semangat.. semangat..
    dan Doa selalu .

    1. Seruu jg bacanya.. jadi inget waktu masih jd teller jg.. hufft fiuuh,, hehe.. sama lah suka duka nya.. semangaat!!!

  13. Imanuel Roy Chandra | Reply

    asli ketawa Aku mbacanya mbak Broo..,

    inspiratif buat aku., krn aku juga sekarang lgi nglamar jadi teller- Man di Bank BTN

    emang di teller Bank gak bisa berkarir ke posisi yg lebih tinggi y Mbak broo??

    jadi dirut Bank Gitu???

    1. @Imanuel : bisa aja sih jadi Dirut, tapi musti kuliah dulu ambil S2, terus S3… career path-nya terlalu jauuuuh klo dari Teller terus jadi Dirut.

      1. Eh.., mbak broo iseng2 buka internet,eh kebaca lagi nih blognya mbak brooo.., iy nih mbak.., baru kerasaa ni gimana beratnya kerja di BANK..,he he (skrg ak sdh diterima di salah satu BANK Plat Merah soalnya)..,
        buat siapapun yang ngebaca blog ini ataupun coment2 nya..,just share kerja di bank tak seperti yang orang banyak pikir,

  14. mbak..tahap test masuknya ada ukur tinggi badan gak? Besok aku mau test. Aku dipanggil tapi tinggiku hanya 151 hehehehe

    1. @Marlina : dulu sih gak pake ukur tinggi badan, soalnya tinggi badan udah tercantum di CV. Fyi : tinggi badanku standar orang Indonesia banget koq.. hehehe…

  15. Mba… ceritanya walau udh 2 taun lalu tp tetep hits di google. Mba aku udh smpe pd tahap tes kesehatan, aku ngelamar jadi cs disana. Sampai sekarang belum ada panggilan lagi. Kalo boleh tanya tes kesehatan sampai offering letter berapa lama ya mba? Makasih mba🙂

  16. Wah mba.. inspiring banget. Aku pengen deh kayak mba bisa masuk ke depkeu. Atau instansi pemerintah lainnya. Tapi aku lulusan s1 perawat mbak. Kalau di kemenkes skrang harus ada ijazah ners (profesi). Sedangkan aku gak punya gelar ners itu (karena biayanya cukup mahal). Huhuu jadi bingung sendiri mau dibawa kemana arahnya aku bekerja. Hihii

  17. really inspring post thanks it inspires me when i want to apply job in bank . hmhm kena banget sm postingnya dan ngambil kesimpulan apapun yang dikerjain seberat apapun hrus ttp senyum dan lapang dada mbaa. chaiyo \m//

  18. Aduuhhh baca tulisannya sih seru, mungkin gak yah aku alamin yang kaya mba, selasa depan aku panggilan di danamon, aku pengennya jadi cs tapi, kalo di tanya suruh milih jadi cs atau teller aku jawab apa yah ?😦

  19. Hai mbak, ceritanya inspiring sekali. Anyway saya sedang nganggur juga, daftar sana sini blm diterima, sudah hampir 7 bulan dari waktu wisuda. Terimakasih mba pengalamannya menginspirasi, kl misal depkeu ada loker karywan kontrak boleh loh mba berbagi hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: